Sabtu, 25 April 2015

Konsepsi IBD dalam Kesusastraan

Kesusastraan Indonesia, secara kultural pada awalnya adalah kesusastraan "etnik"  yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia, bahasa nasional yang diangkat dari bahasa etnik melayu.
Sejarah perkembangan sastra nasional sebenarnya terletak pada adanya kesinambungan antara satu periode dengan periode yang lain dalam sejarahnya.
Dalam peta kesusastraan Indonesia modern, berturut-turut muncul sastra angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 45, angkaan 66 dan angkatan reformasi. Perkembangan sastra masing-masing angkatan itu juga memiliki ciri khas tersendiri.

kali ini saya akan membahas tentang karya sastra angkatan 66.
kemunculan angkatan dalam karya sastra dikaitkan dengan periode tertentu. hal itu terkait dengan kemunculan kecenderungan atau tipe karya. H.B. Jassin sebagai paus sastra Indonesia menyebutkan karya sastra angkatan 66 dimulai pada tahun 50-an.
Karya sastra periode ini, memiliki kecenderungan protes sosial, nasionalisme yang tinggi,juga berbisara kepada politik. pada periode ini dikenal W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Wisran Hadi, Umar Kayam, dan masih banyak lagi.

Karya sastra selalu menjadi refleksi atas apa yang terjadi di masyarakat. Seringkali karya sastra menjadi alat kritik atau pengungkapan fakta atas segala ang berlangsung di dalam kehidupan. seperti halnya angkatan 66 yang menyoroti persoalan politik, kehidupan bermasyarakat, kritik sosial yang disajikan dalam bentuk analogi.
Rasa nasionalisme yang tinggi dan optimisme yang tinggi dari para pengarang diwujudkan melalui karya sastra yang digerakkan oleh tokoh-tokohnya yang idealisme dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi pula. Pikiran pengarang mengenai cita-cita kebangsaan terefleksikan dalam karya-karya mereka.

Jika karya yang ditulis oleh Ramadhan K.H. dan Ahmad Tohari menggunakan genre sastra prosa, lain ha;nya dengan Taufiq Ismail yang juga berbicara mengenai keadaan politik. melalui puisinya yang berjudul Tirani dan Benteng, Taufiq Ismail menyikapi berbagai peristiwa politik yang terjadi saat itu. Persoalan politik yang selalu identik dengan ketidakadilan, persoalan pergerakan massa sekaitan dengan kritik politik acapkali diselesaikan dengan tembakan menjadi fokus kritikan pada karya sastra angkatan 66 ini.

Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini

Tidak ada pilihan lain. 
Kita harus berjalan terus karena berhenti atau mundur 
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran "Duli Tuanku?"
Tidak ada lagi pilihan kita.
Kita harus berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang ditepi jurang mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikan yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada pilihan lain.
Kita harus berjalan terus.

 Dalam puisinya yang berjudul "Kita adlah Pemilik Sah Republik Ini", Taufiq Ismail mengkritisi sekaligus memberikan semangat, seruan kepada pembaca, dalam hal ini rakyat Indonesia agar tetap berjuang, agar tetap berjalan, dan mempertahankan apa yang telah kita yakini. Dalam bait awalnya dituliskan: tidak ada pilihan lain kita harus berjalan terus karena berhenti atau mundur berarti hancur. Jika kita menyerah dan mengalahhanya karena segan dan hormat pada atasan atau pimpinan, maka kita sendiri yang akan menerima akibatnya.
Dalam bait ketiga disebutkan : ita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan dan seribu pengeras suara yang hampa suara.
Hal tersebut merujuk pada kampanye yang acaplkali diakukan dengan mengobral janji-janji yang sesungguhnya sudah diketahui oleh rakyat bahwa janji tersebut palsu. penyair berupaya untuk menyadarkan serta membangkitkan kesadaran rakyat atas fenimena yang terjadi mengenai ketidakdilan dan keengraraan terkait keberadaan negara yang konon sudah merdeka.

http://www.anneahira.com/karya-sastra-angkatan-66.html
 http://www.balipost.co.id/BaliPostCetak/2003/8/31/ap3.html
 

Manusia dan Kebudayaan

"suatu negara tidak akan menjadi negara yang besar jika tidak mengetahui jati diri dari budaya negara tersbut" .

Indonesia adalah negara yang memiliki begitu banyak kebudayaan yang beraneka ragam. meski sudah terpengaruh oleh kebudayaan asing akan tetapi di daerah-daerah tertentu masyarakatnya masih menjunjung tinggi adat istiadat yang berlaku di daerahnya sesuai dengan kepercayaan yang dianut. salah satu contohnya adalah upacara adat. banyak sekali upacara adat yang dilaksanakan oleh suku-suku di Indonesia, mulai dari upacara pernikahan, upacara kelahiran, sampai upacara kematian.

Kali ini saya akan membahas tentang upacara kematian yang berasal dari suku Toraja, yaitu upacara Rambu Solo.

UPACARA RAMBU SOLO

Rambu Solo adalah upacara penyempurnaan kematian. Masyarakat  Toraja percaya bahwa setelah kematian masih ada sebuah 'dunia' dimana arwah para leluhur berkumpul serta tempat peristirahatan yang masyarakat Toraja sebut Puya, yang berada di sebelah selatan Tana Toraja. di Puya inilah arwah yang meninggal akan bertranformasi menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), atau arwah pelindung (Deata) tergantung dari kesempurnaan upacara Rambu Solo yang dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan..

Seseorang yang meninggal dan belum dilaksanakan upacara Rambu Solo akan dianggap belum meninggal. orang tersebut akan diperlakukan seperti orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah. dia akan diperlakukan seperti orang yang masih hidup oleh keluarganya bahkan tetangganya, seperti dibaringkan di ranjang ketika hendak tidur, disediakan makanan dan minuman bahkan diajak bercerita dan bercanda.
oleh karena itu, untuk menggenapi kematiannya haruslah dilaksanakan upacara Rambu Solo itu. akan tetapi, karena biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakannya tidaklah sedikit sehingga seringkali upacara dilaksanakan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kematian seseorang

upacara ini membutuhkan biaya yang besar mulai dari puluhan sampai ratusan juta rupiah dan berlangsung selama 2-3 hari bahkan bisa sampai 2 minggu untuk kalangan bangsawan. kuburannya sendiri dibuat di bagian atas tebing di ketinggian bukit batu. karena menurut pekercayaan, semakin tinggi jenazah itu diletakkan, maka semakin cepat pula arwahnya sampai ke nirwana.

Puncak dari upacara Rambu Solo ini dilaksanakan di sebuah lapangan khusus. dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
selain itu, dalam upacara ini terdapat berbagai atraksi yang dipertontonkan, seperti adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. ada juga pementasan beberapa alat musik dan tarian Toraja.

Kerbau disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. kerbaunya juga bukan kerbau biasa melainkan kerbau bule Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10-50 jutaan atau lebih perekornya.