Sejarah perkembangan sastra nasional sebenarnya terletak pada adanya kesinambungan antara satu periode dengan periode yang lain dalam sejarahnya.
Dalam peta kesusastraan Indonesia modern, berturut-turut muncul sastra angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 45, angkaan 66 dan angkatan reformasi. Perkembangan sastra masing-masing angkatan itu juga memiliki ciri khas tersendiri.
kali ini saya akan membahas tentang karya sastra angkatan 66.
kemunculan angkatan dalam karya sastra dikaitkan dengan periode tertentu. hal itu terkait dengan kemunculan kecenderungan atau tipe karya. H.B. Jassin sebagai paus sastra Indonesia menyebutkan karya sastra angkatan 66 dimulai pada tahun 50-an.
Karya sastra periode ini, memiliki kecenderungan protes sosial, nasionalisme yang tinggi,juga berbisara kepada politik. pada periode ini dikenal W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Wisran Hadi, Umar Kayam, dan masih banyak lagi.
Karya sastra selalu menjadi refleksi atas apa yang terjadi di masyarakat. Seringkali karya sastra menjadi alat kritik atau pengungkapan fakta atas segala ang berlangsung di dalam kehidupan. seperti halnya angkatan 66 yang menyoroti persoalan politik, kehidupan bermasyarakat, kritik sosial yang disajikan dalam bentuk analogi.
Rasa nasionalisme yang tinggi dan optimisme yang tinggi dari para pengarang diwujudkan melalui karya sastra yang digerakkan oleh tokoh-tokohnya yang idealisme dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi pula. Pikiran pengarang mengenai cita-cita kebangsaan terefleksikan dalam karya-karya mereka.
Jika karya yang ditulis oleh Ramadhan K.H. dan Ahmad Tohari menggunakan genre sastra prosa, lain ha;nya dengan Taufiq Ismail yang juga berbicara mengenai keadaan politik. melalui puisinya yang berjudul Tirani dan Benteng, Taufiq Ismail menyikapi berbagai peristiwa politik yang terjadi saat itu. Persoalan politik yang selalu identik dengan ketidakadilan, persoalan pergerakan massa sekaitan dengan kritik politik acapkali diselesaikan dengan tembakan menjadi fokus kritikan pada karya sastra angkatan 66 ini.
Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini
Tidak ada pilihan lain.
Kita harus berjalan terus karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran "Duli Tuanku?"
Tidak ada lagi pilihan kita.
Kita harus berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
yang ditepi jurang mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikan yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada pilihan lain.
Kita harus berjalan terus.
Dalam puisinya yang berjudul "Kita adlah Pemilik Sah Republik Ini", Taufiq Ismail mengkritisi sekaligus memberikan semangat, seruan kepada pembaca, dalam hal ini rakyat Indonesia agar tetap berjuang, agar tetap berjalan, dan mempertahankan apa yang telah kita yakini. Dalam bait awalnya dituliskan: tidak ada pilihan lain kita harus berjalan terus karena berhenti atau mundur berarti hancur. Jika kita menyerah dan mengalahhanya karena segan dan hormat pada atasan atau pimpinan, maka kita sendiri yang akan menerima akibatnya.
Dalam bait ketiga disebutkan : ita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan dan seribu pengeras suara yang hampa suara.
Hal tersebut merujuk pada kampanye yang acaplkali diakukan dengan mengobral janji-janji yang sesungguhnya sudah diketahui oleh rakyat bahwa janji tersebut palsu. penyair berupaya untuk menyadarkan serta membangkitkan kesadaran rakyat atas fenimena yang terjadi mengenai ketidakdilan dan keengraraan terkait keberadaan negara yang konon sudah merdeka.
http://www.anneahira.com/karya-sastra-angkatan-66.html
http://www.balipost.co.id/BaliPostCetak/2003/8/31/ap3.html
http://www.anneahira.com/karya-sastra-angkatan-66.html
http://www.balipost.co.id/BaliPostCetak/2003/8/31/ap3.html