Gelisah berarti khawatir, tidak tenang. Kegelisahan bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti gelisah karena telah melakukan kesalahan, atau takut akan masa depan yang akan terjadi, takut kehilangan sesuatu dan sebagainya.
Kegelisahan merujuk pada sesuatu yang negatif. tapi disisi lain tetap mempunyai harapan. oleh karena itu apabila harapan ini dapat menyeimbangkan kegelisahan itu sendiri maka akan tercipta ketenangan.
Kadang-kadang terasa, kesalahan dan kekurangan kita masing-masing justru merupakan yang terpenting dalam semua yang kita jalani. bukan yang terbaik dari kita, tapi justru yang terburuk dari masing-masing kita. -Fahd Djibran-
Sabtu, 01 Agustus 2015
Manusia dan Tanggung Jawab
Terjadi kasus salah tangkap yang dilakukan oleh polisi terhadap tukang ojek yang bernama Dedi.
Dedi ditangkap polisi karena dituduh menjadi salah satu pelaku pengeroyokan terhadap pengemudi angkot di kawasan PGC Cililitan pada kamis malam, 18 september 2014 silam.
Awalnya malam itu keributan terjadi dekat pangkalan ojek di sekitar Pusat Grosir Cililitan (PGC). Dua sopir angkot berkelahi karena rebutan penumpang.
tukang ojek yang ada di pangkalan pun berusaha melerainya. Namun, diduga karena sakit hati, salah satu sopir angkot pulang dan kembali ke lokasi membawa senjata.
ia pun dikeroyok oleh sejumlah tukang ojek dan sopir angkot lainnya di sana dan membuat sopir angkot itu tewas. Beberapa hari setelah itu polisi melakukan pengejaran pada pelaku yang membuat tewas sopir angkot tersebut. Pelaku bernama Dodi. Namun dalam pengejaran polisi justru menangkap Dedi.
Padahal saat kejadian, Dedi sudah plang ke rumahnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Setelah ditangkap, polisi pun memproses Dedi untuk diadili di pengadilan negeri Jakarta Timur. Di pengadilan, ia divonis bersalah dengan hukuman kurungan selama dua tahun penjara di rumah tahanan Cipinang.
Selama Dedi menjalani masa tahanan, istrinya, Nurohmah menggantikan Dedi sebagai tukang ojek agar bisa menafkahi anak semata wayang mereka yang bernama Ibrahim yang baru berusia tiga tahun.
Bahkan akhirnya Ibrahim pun meninggal karena kekurangan gizi.
Pada kamis, 30/7/2015 Dedi dibebaskan setelah menjalani masa tahanan selama 10 bulan.
sumber : kompas.com
Dedi telah dibebaskan, namun ia telah kehilangan 10 bulan waktunya yang semestinya digunakannya untuk menafkahi keluarganya. bahkan yang paling memilukan adalah bahwa ia harus kehilangan anak semata wayangnya. dalam hal ini negara haruslah bertanggung jawab ganti rugi, meski apapun yang dilakukannya tidak akan menghidupkan kembali Ibrahim dan mengembalikan 10 bulan yang hilang dengan sia-sia.
Manusia dan Pandangan Hidup
"sudah sampai di sini", atau "baru sampai di sini", adalah pernyataan yang bisa jadi diucapkan pada jarak yang sama oleh orang yang menempuh perjalanan yang sama, dengan perasaan yang berbeda, kata Fahd Djibran.
Bagiku, hal itu tergantung dari pandangan hidup seseorang. Orang yang menyatakan "sudah sampai di sini", bisa jadi adalah sesorang yang optimis, ambisius, dan semangat dalam menjalani 'proses'. Bisa juga, berarti cepat puas, biasanya jenis ini adalah orang yang melihat ke belakang dan merasa bahwa ia telah melewati banyak hal dan semua rintangan-rintangannya, maka tidak ada salahnya untuk sesekali menikmati pencapaian itu dan merasa bersyukur. hal itu juga bisa dijadikan dorongan baginya untuk terus maju menyelesaikan sisanya ada dihadapannya.
Sedangkan orang yang menyatakan "baru sampai disini", bisa merupakan bentuk pesimis, kelelahan, atau adalah orang yang tidak mudah puas. berarti ia tipe yang melihat ke depan. merasa bahwa jalan yang harus ditempuhnya masih sangat panjang dan lama, belum lagi semua masalah yang harus dilewati. maka dari itu ia harus menyiapkan energi yang banyak dan cukup untuknya mencapai akhir dari jalan tersebut.
Pandangan hidup adalah tentang alasan. seberapa keras kita berjuang untuk mencapai suatu tujuan. Mimpi-mimpi, cita-cita, tujuan dan harapan, adalah alasan untuk kita agar tetap hidup. Benar. bahkan hidup harus punya alasan. bayangkan kalau kau sudah tidak memilikinya, bahkan orang-orang memilih mengakhiri hidupnya karena sudah tidak memiliki alasan hidup. maka mulai dari sekarang carilah alasanmu sebanyak-banyaknya karena jika kau kehabisan, maka keberadaanmu di dunia ini tak lebih hanyalah seperti, mayat hidup.
Manusia dan Harapan
Ketika kau terdesak dan tak punya apapun, harapan adalah senjata rahasia yang dianugerahkan Tuhan pada setiap manusia.
-Fahd Djibran-
Dalam bukunya yang berjudul "Curhat Setan (Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya)", Fahd Djibran menuliskan bahwa harapan ternyata serupa candu yang tak pernah tuntas. seperti tujuan yang selalu ada di stasiun berikutnya. Barangkali, masih ada harapan. Barangkali? Ya, "barangkali".
Seorang Ayah pergi sejak pagi buta demi mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun kemarin dia sudah puluhan kali ditolak sana-sini, barangkali hari ini ada harapan, pikirnya.
Harapan serupa cahaya dalam kegelapan. bahkan ketika kita terpuruk dan putus asa, kita masih bisa melanjutkan hidup dengan terus melihat ke arah cahaya tersebut. menjaga pikiran kita untuk tetap waras.
Mengapa seseorang kecewa? karena kenyataan yang ia hadapi tak sesuai dengan apa yang ia harapankan. Benar, terkadang kita menginginkan A ternyata yang terjadi justru B. Kau berharap hari ini langit cerah karena kau memiliki janji dengan teman di kebun binatang, ternyata yang terjadi justru hujan lebat disertai guntur yang sepertinya tidak akan segera reda. kau kecewa dam marah kemudian mulai menyalahkan Tuhan. keesokan harinya kau mendengar kabar bahwa kemarin di kebun binatang yang ingin kalian kunjungi itu ada beruang lepas yang mengamuk dan melukai beberapa pengunjung. saat itulah kau akan merasa begitu bersyukur, 'untung aku tidak jadi pergi kemarin, kalau tidak apa yang akan terjadi?', 'Tuhan sudah menyelamatkanku'. Kurang lebih seperti ini, Tuhan tidak mewujudkan harapan bukan berarti DIA tidak menyayangi kita atau bersikap tidak adil, melainkan untuk melindungi kita dari harapan itu sendiri karena terkadang manusia tidak mengetahui apa yang ia harapkan dan resiko yang akan ditanggungnya. Bukan berarti kita tidak boleh berharap, tapi apabila yang kita dapatkan tidak sesuai dengan harapan itu, percayalah bahwa itu yang terbaik dari Tuhan yang pantas kita dapatkan.
Ya, harapan memang seperti kata-kata yang tak pernah memberi kepastian. Tapi, semisterius apapun ia berada, harapan tetaplah sebuah destinasi yang nyata. Ia ada, dan siapapun yang menempuh jalan ke arahnya, suatu saat akan sampai.
Bila hari ini kau kecewa, sedih atau merasa tak berarti apa-apa, tenanglah, tarik napasmu, barangkali besok masih ada harapan.
Bila Tahun ini mimpi-mimpimu, cita-citamu, keinginanmu belum tercapai, bila kau masih merasa tak pasti, tenanglah barangkali beso masih ada harapan.
Bukankah hanya harapan yang bisa membuatmu tetap bertahan? Tenanglah. Tarik napasmu. Besok masih ada harapan.
-Fahd Djibran-
Dalam bukunya yang berjudul "Curhat Setan (Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya)", Fahd Djibran menuliskan bahwa harapan ternyata serupa candu yang tak pernah tuntas. seperti tujuan yang selalu ada di stasiun berikutnya. Barangkali, masih ada harapan. Barangkali? Ya, "barangkali".
Seorang Ayah pergi sejak pagi buta demi mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, meskipun kemarin dia sudah puluhan kali ditolak sana-sini, barangkali hari ini ada harapan, pikirnya.
Harapan serupa cahaya dalam kegelapan. bahkan ketika kita terpuruk dan putus asa, kita masih bisa melanjutkan hidup dengan terus melihat ke arah cahaya tersebut. menjaga pikiran kita untuk tetap waras.
Mengapa seseorang kecewa? karena kenyataan yang ia hadapi tak sesuai dengan apa yang ia harapankan. Benar, terkadang kita menginginkan A ternyata yang terjadi justru B. Kau berharap hari ini langit cerah karena kau memiliki janji dengan teman di kebun binatang, ternyata yang terjadi justru hujan lebat disertai guntur yang sepertinya tidak akan segera reda. kau kecewa dam marah kemudian mulai menyalahkan Tuhan. keesokan harinya kau mendengar kabar bahwa kemarin di kebun binatang yang ingin kalian kunjungi itu ada beruang lepas yang mengamuk dan melukai beberapa pengunjung. saat itulah kau akan merasa begitu bersyukur, 'untung aku tidak jadi pergi kemarin, kalau tidak apa yang akan terjadi?', 'Tuhan sudah menyelamatkanku'. Kurang lebih seperti ini, Tuhan tidak mewujudkan harapan bukan berarti DIA tidak menyayangi kita atau bersikap tidak adil, melainkan untuk melindungi kita dari harapan itu sendiri karena terkadang manusia tidak mengetahui apa yang ia harapkan dan resiko yang akan ditanggungnya. Bukan berarti kita tidak boleh berharap, tapi apabila yang kita dapatkan tidak sesuai dengan harapan itu, percayalah bahwa itu yang terbaik dari Tuhan yang pantas kita dapatkan.
Ya, harapan memang seperti kata-kata yang tak pernah memberi kepastian. Tapi, semisterius apapun ia berada, harapan tetaplah sebuah destinasi yang nyata. Ia ada, dan siapapun yang menempuh jalan ke arahnya, suatu saat akan sampai.
Bila hari ini kau kecewa, sedih atau merasa tak berarti apa-apa, tenanglah, tarik napasmu, barangkali besok masih ada harapan.
Bila Tahun ini mimpi-mimpimu, cita-citamu, keinginanmu belum tercapai, bila kau masih merasa tak pasti, tenanglah barangkali beso masih ada harapan.
Bukankah hanya harapan yang bisa membuatmu tetap bertahan? Tenanglah. Tarik napasmu. Besok masih ada harapan.
Langganan:
Postingan (Atom)