Motivasi diri..
Bagiku, orang yang cenderung menunda-nunda mengerjakan
segala hal, motivasi adalah hal yang jauh. Seperti sesuatu yang berada di ujung yang
berlawanan dari tempatku berdiri. Masih ada hari esok, nanti saja, istirahat
dulu dari jam segini sampai jam segitu, o iya belum cek twitter, facebook,
instagram, dan lain-lain dan lain-lain, dan akhirnya? Wush! waktu berlalu
dengan sia-sia. Lagi. Sedangkan tugas-tugas yang tertunda atau ditunda itu
membesar dan membesar dan mengejarku tanpa ampun. Ya, kewajiban adalah
kewajiban. Meskipun kau pikir kau telah meninggalkannya, ternyata dia berjalan
lebih cepat dari dugaanmu, saat kau sadar, dia sudah ada di sana, duduk manis di
tempat yang kau tuju – Menunggumu.
Terkadang aku berpikir menjadi pohon lebih menyenangkan.
Tidak melakukan apa-apa, tidak memikirkan apa-apa. Atau menjadi kucing, bermalas-malasan
seharian tanpa merencanakan bagaimana hidupnya besok dan tetap terlihat bahagia.
Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Aku adalah aku dan takdirku adalah menjadi
manusia. Sedangkan pada umumnya, manusia dituntut untuk merangkai masa depan
yang “sukses”. Ya, tentu saja sukses itu relative. Tapi sepertinya standar umum
sukses adalah memiliki pekerjaan yang hebat dan uang yang banyak. Aku juga
ingin hidup seperti itu tentu saja, jika itu pilihan. Dan ya, aku juga kadang-kadang
memikirkan masa depanku. Mungkin itu salah satu motivasi diriku? Memastikan di
masa depan aku masih memiliki tempat berteduh yang hangat, pakaian yang layak,
serta perut yang kenyang saat tidak ada lagi orang-orang yang menyayangiku.
Bicara tentang orang-orang yang menyayangiku, dan tentu
saja kusayangi. Mereka adalah pasti motivasi terbesarku. Itu pasti. Mereka yang
mendorongku untuk terus maju meskipun langkahku lamban dan berat. Mereka akan
terus mendukungku meskipun aku seperti tidak punya harapan dan putus asa. Mereka
tidak menuntut, karena mereka menerimaku apa adanya. Jika diibaratkan, mereka
adalah peluit. Saat aku mulai bermalas-malasan, Priittt!! Priittt!! Saat aku mulai
melenceng ke arah yang salah, Priittt!! Priittt!! Pokoknya, Priittt!! Priittt!!
Membuatku tetap sadar dengan langkahku. Memastikan aku sadar mereka ada di sana
untukku. Hal itu yang membuatku tenang. Dan dalam hal ini aku tidak akan
bersedia menggantikan posisiku dengan kucing manapun di dunia.
Aku ingin menjadi sesuatu yang lebih baik lagi daripada
ini. Membuat orang-orang itu bangga memilikiku. Mereka adalah motivasiku.
Selain itu, di dunia ini tentu saja banyak orang-orang
hebat yang cerita hidupnya membuatku termotivasi. Mulai dari tokoh yang nyata
sampai tokoh-tokoh fiksi dalam film atau dongeng. Sudut pandang mereka tentang
sesuatu, cara mereka menanggapi masalah, serta solusi yang diberikan. Pengalaman
mereka membuatku belajar, dan belajar membuatku dewasa. Mereka selalu yakin
dengan langkah yang mereka ambil meskipun terlihat tidak biasa dan berbahaya. Mereka
selalu memiliki tujuan yang pasti untuk dicapai. Seringkali mereka mencapainya.
Tapi jikapun tidak, maka tidak apa. Mereka sudah berusaha, sehingga tidak ada
penyesalan. Aku juga ingin menjadi seperti itu.
Tapi motivasi terbaik adalah motivasi yang berasal dari
diri sendiri, bukan? Jadi, dirimu sendirilah alasan motivasi itu muncul. Motivasi
yang tujuannya adalah untuk kesejahteraan lahir batinmu tanpa orang lain
terlibat. Karena jika alasan motivasi itu muncul adalah orang lain, jika suatu
saat mereka hilang atau mengecewakanmu, maka motivasi yang mereka bawa juga akan
pergi. Tapi dirimu, kau tidak akan bisa kehilangannya. Meskipun jika kasusnya
amnesia, atau tiba-tiba buta, atau kehilangan semua indra, kau tetaplah kau. Aku
tetaplah aku. Kita tidak bisa kehilangan sesuatu yang melekat permanen seumur
hidup.
Aku ingin menjadi berani pada keputusan apapun yang
kuambil. Lagipula kemungkinan terburuk dari semua keputusan adalah mati, kan? Jadi,
hal paling penting di dunia ini adalah hidup. Selama aku masih hidup maka aku
harus memiliki tujuan, dan jika aku memiliki tujuan aku harus melewati jalan
untuk sampai. Meskipun jalan itu tidak mulus dan terlihat sangat sulit. Karena hal
terburuk sekalipun pasti akan berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar