Sabtu, 02 Mei 2015

Manusia dan Keindahan



Keindahan adalah suatu konsep abstrak yang tidak dapat dinikmati, keindahan dapat dinikmati melalui suatu karya. Dengan kata lain keindahan dapat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk.
keindahan pada dasarnya adalah alamiah. alamiah artinya wajar tidak berlebihan dan tidak kurang.
Salah satu contoh pengimplementasiannya yaitu berupa karya seni.
berikut ini saya akan membahas tentang suatu keindahan yang tertuang dalam sebuah tarian,

TARI LUMENSE

Tari Lumense adalah tarian yang berasal dari daerah Bombana, Sulawesi Tenggara. Tari ini tepatnya berasal dari Tokotu’a, kabupaten Bombana kecamatan Sulawesi Tenggara. Arti lata lumense berasal dari Bahasa daerah setempat yang terdiri dari dua kata yakni ‘lume’ yang artinya ‘terbang’ dan ‘mense’ yang artinya ‘tinggi’. Sehingga lumense dapat diartikan terbang tinggi.
Awalnya tari Lumense ini dilakukan dalam upacara ritual pe-olia yaitu ritual penyembahan roh halus yang disebut kowonuano (penguasa negeri) dengan menyajikan aneka jenis makanan. Yang bermaksud agar kowonuano tersebut mengusir segala macam bencana.penutup dari ritual tersebu adalah menebang pohon pisang.
Simbol pohon pisang yang ditebang dalam tarian ini bermakna bencana alam yang dicegah. Saat ini, tari Lumense bukan lagi dianggap sebagai ritualakan tetapi masih dianggap memiliki nilai spiritual. Masyarakat setempat meyakini tari lumense adalah tari penyembuh.
Tari ini dilakukan oleh 12 orang perempuan, 6 orang berperan sebagai laki-laki dan 6 lainnya berperan sebagai perempuan.
Kostum yang digunakan penari adalah busana adat Tokotu’a atau Kabaena. Penari yang berperan sebagai perempuan memakai rok berwarna merah maron dan atasan baju hitam. Baju ini disebut dengan taincombo dengan bagian bawah baju mirip ikan duyung. Sedangkan penari yang berperan sebagai laki-laki memekai Taincombo yang dipadukan dengan selendang merah dan memakai korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri.
Gerakan tarian ini diawali dengan gerakan maju mundur, kemudian bertukar tempat dan membentuk formasi huruf Z lalu berubah menjadi S, gerakan yang ditampilkan merupakan gerakan yang dinamis yang disebut moonami atau ibing.
Inti dari tarian ini adalah ketika para penari terus melakukan moonami kemudian menebas pohon pisang memakai parang hingga pohon pisang tersebut jatuh ke tanah.
Penutup dari tarian ini adalah para penari membentuk formasi setengah lingkaran sambal saling mengaitkan lengan lalu menggerakannya naik turun sambal mengimbangi kaki yang maju mundur.
Music dari tarian ini berasal dari alat music gendang dan gong besar yang disebut tawa-tawa dan gong kecil (ndengu-ndengu). Pengiring music berjumlah tiga orang penabuh sementara dalam memainkan tarian ini dibutuhkan beberapa anakan pohong pisang sebagai property pendukung.

http://www.dunia-kesenian.blogspot.com/2014/08/tari-lumense-daerah-bombana-sultra.html?m=1
http://www.budayaindonesia.net/2014/03/tari-tradisional-lumense-dari-sulawesi.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar